Optimis, semangat, dan selalu berpikir positif. Jika kita tidak mampu hidup jadi beringin yang kuat dan kokoh, jadilah saja belukar tetapi yang menyuburkan tanah. Jika kita tidak mampu hidup seperti jalan raya beraspal, jadilah saja jalan setapak tetapi yang menuju mata air.
Friday, October 16, 2009
Metode Pembelajaran Menulis
Metode pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Metode tersebut didasari anggapan bahwa pada umumnya pengetahuan dibagi dua, yakni pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Deklaratif berarti pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Dalam metode langsung, terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali dengan penjelasan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru. Hal itu disebut fase persiapan dan motivasi. Fase berikutnya adalah fase demontrasi, pembimbingan, pengecekan, dan pelatihan lanjutan.
Pada metode langsung bisa dikembangkan dengan teknik pembelajaran menulis dari gambar atau menulis objek langsung dan atau perbandingan objek langsung. Teknik menulis dari gambar atau menulis objek langsung bertujuan agar siswa dapat menulis dengan cepat berdasarkan gambar yang
dilihat. Misalnya, guru menunjukkan gambar kebakaran yang melanda sebuah desa atau melihat langsung kejadian kebakaran sebuah desa, Dari gambar tersebut siswa dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar.
b. Metode Komunikatif
Desain yang bermuatan metode komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diusahakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistik. Sepucuk surat adalah sebuah produk. Demikian pula sebuah perintah, pesan, laporan atau peta juga merupakan produk yang dapat dilihat dan diamati. Dengan begitu, produk-produk tersebut dihasilkan melalui penyelesaian tugas yang berhasil. Metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis dialog. Siswa menulis dialog tentang yang mereka lakukan dalam sebuah aktivitas. Kegiatan ini dapat dilaksanakan perseorangan maupun kelompok.
c. Metode Integratif
Integratif berarti menyatukan beberap aspek ke dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan antarbidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, menyimak diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan membaca dan berbicara. Materi kebahasaan diintegrasikan dengan keterampilan bahasa. Sedangkan antarbidang studi merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Misalnya; antarabahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lainnya. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, integratif interbidang studi lebih banyak digunakan. Saat mengajarkan kalimat, guru tidak secara langsung menyodorkan materi kalimat ke siswa tetapi diawali dengan membaca atau yang lainnya. Perpindahannya diatur secara tipis. Bahkan, guru yang pandai mengintegrasikan penyampaian materi dapat menyebabkan siswa tidak merasakan perpindahan materi. Integratif sangat diharapkan oleh Kurikulum Bahasa Indonesia Berbasis Kompetensi. Pengintegrasiannya diaplikasikan sesuai dengan kompetensi dasar yang perlu dimiliki siswa. Materi tidak dipisah-pisahkan. Materi ajar justru merupakan kesatuan yang perlu dikemas secara menarik. Metode inregratif dapat dilaksanakan dalam pembelajaran mambaca dengan memberi catatan bacaan. Siswa dapat membuat catatan yang diangap penting atau kalimat kunci sebuah bacaan. Dalam melakukan kegiatan membaca sekaligus siswa menulis.
d. Metode Tematik
Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah tema bukanlah tujuan tetapi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tema tersebut harus diolah dan disajikan secara kontekstualitas, kontemporer, kongkret, dan konseptual. Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan siswa. Budaya, sosial, dan religiusitas mereka menjadi perhatian. Begitu pula isi tema yang disajikan secara kontemporer sehingga siswa senang. Apa yang terjadi sekarang di lingkungan siswa juga harus terbahas dan terdiskusikan di kelas. Kemudian, tema tidak disajikan secara abstrak tetapi diberikan secara kongkret. Semua siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan logika yang dipunyainya. Siswa berangkat dari konsep ke analisis atau dari analisis ke konsep kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.
e. Metode Konstruktivistik
Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu menemukan. Artinya, meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka. Konstuktivistik dimulai dari masalah (sering muncul dari siswa sendiri) dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. Metode konstruktivistik didasarkan pada teori belajar kognitif yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif strategi bertanya, inkuiri, atau menemukan dan keterampilan metakognitif lainnya (belajar bagaimana seharusnya belajar).
f. Metode Kontekstual
Pembelajaran kontekstual adalah konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan pembelajaran yang memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Ardina, 2001). Pembelajaran dengan menggunakan metode ini akan mempermudah dalam pembelajaran menulis. Anak dimotivasi agar mampu menulis. Menurut Nur (2001) pengajaran kontekstual memungkinkan siswa menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengatahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan di luar sekolah agar siswa dapat memecahkan masalah dunia nyata atau masalah yang disimulasikan. Sebenarnya siswa dalam belajar tidak berada di awan tetapi berada di bumi yang selalu menyatu dengan tempat belajar, waktu, situasi, dan suasana alam dan masyarakatnya. Untuk itu, metode yang dianggap tepat untuk mengembangkan pembelajaran adalah metode kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Adapun metode ini dapat diterapkan dalam salah satu pembelajaran menulis deskripsi. Siswa dapat belajar dalam situasi dunia nyata tidak dalam dunia awang-awang.
Metode Pembelajaran Menulis
Metode pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Metode tersebut didasari anggapan bahwa pada umumnya pengetahuan dibagi dua, yakni pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Deklaratif berarti pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Dalam metode langsung, terdapat lima fase yang sangat penting. Guru mengawali dengan penjelasan tentang tujuan dan latar belakang pembelajaran serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan guru. Hal itu disebut fase persiapan dan motivasi. Fase berikutnya adalah fase demontrasi, pembimbingan, pengecekan, dan pelatihan lanjutan.
Pada metode langsung bisa dikembangkan dengan teknik pembelajaran menulis dari gambar atau menulis objek langsung dan atau perbandingan objek langsung. Teknik menulis dari gambar atau menulis objek langsung bertujuan agar siswa dapat menulis dengan cepat berdasarkan gambar yang
dilihat. Misalnya, guru menunjukkan gambar kebakaran yang melanda sebuah desa atau melihat langsung kejadian kebakaran sebuah desa, Dari gambar tersebut siswa dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar.
b. Metode Komunikatif
Desain yang bermuatan metode komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diusahakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistik. Sepucuk surat adalah sebuah produk. Demikian pula sebuah perintah, pesan, laporan atau peta juga merupakan produk yang dapat dilihat dan diamati. Dengan begitu, produk-produk tersebut dihasilkan melalui penyelesaian tugas yang berhasil. Metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis dialog. Siswa menulis dialog tentang yang mereka lakukan dalam sebuah aktivitas. Kegiatan ini dapat dilaksanakan perseorangan maupun kelompok.
c. Metode Integratif
Integratif berarti menyatukan beberap aspek ke dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan antarbidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, menyimak diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan membaca dan berbicara. Materi kebahasaan diintegrasikan dengan keterampilan bahasa. Sedangkan antarbidang studi merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Misalnya; antarabahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lainnya. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, integratif interbidang studi lebih banyak digunakan. Saat mengajarkan kalimat, guru tidak secara langsung menyodorkan materi kalimat ke siswa tetapi diawali dengan membaca atau yang lainnya. Perpindahannya diatur secara tipis. Bahkan, guru yang pandai mengintegrasikan penyampaian materi dapat menyebabkan siswa tidak merasakan perpindahan materi. Integratif sangat diharapkan oleh Kurikulum Bahasa Indonesia Berbasis Kompetensi. Pengintegrasiannya diaplikasikan sesuai dengan kompetensi dasar yang perlu dimiliki siswa. Materi tidak dipisah-pisahkan. Materi ajar justru merupakan kesatuan yang perlu dikemas secara menarik. Metode inregratif dapat dilaksanakan dalam pembelajaran mambaca dengan memberi catatan bacaan. Siswa dapat membuat catatan yang diangap penting atau kalimat kunci sebuah bacaan. Dalam melakukan kegiatan membaca sekaligus siswa menulis.
d. Metode Tematik
Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah tema bukanlah tujuan tetapi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tema tersebut harus diolah dan disajikan secara kontekstualitas, kontemporer, kongkret, dan konseptual. Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan siswa. Budaya, sosial, dan religiusitas mereka menjadi perhatian. Begitu pula isi tema yang disajikan secara kontemporer sehingga siswa senang. Apa yang terjadi sekarang di lingkungan siswa juga harus terbahas dan terdiskusikan di kelas. Kemudian, tema tidak disajikan secara abstrak tetapi diberikan secara kongkret. Semua siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan logika yang dipunyainya. Siswa berangkat dari konsep ke analisis atau dari analisis ke konsep kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.
e. Metode Konstruktivistik
Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu menemukan. Artinya, meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka. Konstuktivistik dimulai dari masalah (sering muncul dari siswa sendiri) dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. Metode konstruktivistik didasarkan pada teori belajar kognitif yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif strategi bertanya, inkuiri, atau menemukan dan keterampilan metakognitif lainnya (belajar bagaimana seharusnya belajar).
f. Metode Kontekstual
Pembelajaran kontekstual adalah konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan pembelajaran yang memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Ardina, 2001). Pembelajaran dengan menggunakan metode ini akan mempermudah dalam pembelajaran menulis. Anak dimotivasi agar mampu menulis. Menurut Nur (2001) pengajaran kontekstual memungkinkan siswa menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengatahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan di luar sekolah agar siswa dapat memecahkan masalah dunia nyata atau masalah yang disimulasikan. Sebenarnya siswa dalam belajar tidak berada di awan tetapi berada di bumi yang selalu menyatu dengan tempat belajar, waktu, situasi, dan suasana alam dan masyarakatnya. Untuk itu, metode yang dianggap tepat untuk mengembangkan pembelajaran adalah metode kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Adapun metode ini dapat diterapkan dalam salah satu pembelajaran menulis deskripsi. Siswa dapat belajar dalam situasi dunia nyata tidak dalam dunia awang-awang.
Strategi Pembelajaran
1. Pengalaman Penting (Critical Incident )
Strategi ini digunakan untuk memulai pelajaran. Tujuan dan penggunaan strategi ini untuk melibatkan siswa sejak awal dengan melihat pengalaman mereka.
Langkah- langkah:
a. Sampaikan kepada siswa topik atau materi yang akan dipelajari.
b. Beri kesempatan beberapa menit kepada siswa untuk mengingat pengalaman mereka yang tidak terlupakan berkaitan dengan materi yang ada.
c. Tanyakan pengalaman apa yang menurut mereka tidak terlupakan.
d. Sampaikan materi pelajaran dengan mengaitkan pengalaman siswa dengan materi yang akan disampaikan.
Strategi ini dapat digunakan dengan maksimal pada mata pealajaran yang bersifat praktis.
2. Tebak Pelajaran (Prediction Guide)
Strategi ini digunakan untuk melibatkan siswa dalam proses pembelajaran secara aktif dari awal sampai akhir. Melalui strategi ini siswa diharapkan dapat terlibat dalam pelajaran dan tetap mempunyai perhatian ketika guru menyampaikan materi.
Pertama kali siswa diminta untuk menebak apa yang akan muncul dalam topik tertentu. Selama penyampaian materi, siswa dituntut untuk mencocokkan hasil tebakan mereka dengan materi yang disampaikan oleh guru.
Langkah-langkah:
a. Tentukan topik yang akan disampaikan.
b. Bagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil.
c. Guru meminta siswa untuk menebak apa saja yang kira-kira akan mereka dapatkan dalam pelajaran.
d. Siswa diminta untuk membuat perkiraan itu di dalam kelompok kecil.
e. Sampaikan materi pelajaran secara interaktif.
f. Selama proses pembelajaran siswa diminta untuk mengidentifikasi tebakan mereka yang sesuai dengan materi yang disampaikan.
g. Pada akhir pelajaran, tanyakan berapa jumlah tebakan mereka yang benar.
Strategi ini dapat diterapkan pada hampir semua mata pelajaran. Kelas akan menjadi dinamis jika diadakan kompetisi antarkelompok untuk mencari kelompok dengan prediksi yang paling banyak benarnya.
Strategi Pembelajaran
1. Pengalaman Penting (Critical Incident )
Strategi ini digunakan untuk memulai pelajaran. Tujuan dan penggunaan strategi ini untuk melibatkan siswa sejak awal dengan melihat pengalaman mereka.
Langkah- langkah:
a. Sampaikan kepada siswa topik atau materi yang akan dipelajari.
b. Beri kesempatan beberapa menit kepada siswa untuk mengingat pengalaman mereka yang tidak terlupakan berkaitan dengan materi yang ada.
c. Tanyakan pengalaman apa yang menurut mereka tidak terlupakan.
d. Sampaikan materi pelajaran dengan mengaitkan pengalaman siswa dengan materi yang akan disampaikan.
Strategi ini dapat digunakan dengan maksimal pada mata pealajaran yang bersifat praktis.
2. Tebak Pelajaran (Prediction Guide)
Strategi ini digunakan untuk melibatkan siswa dalam proses pembelajaran secara aktif dari awal sampai akhir. Melalui strategi ini siswa diharapkan dapat terlibat dalam pelajaran dan tetap mempunyai perhatian ketika guru menyampaikan materi.
Pertama kali siswa diminta untuk menebak apa yang akan muncul dalam topik tertentu. Selama penyampaian materi, siswa dituntut untuk mencocokkan hasil tebakan mereka dengan materi yang disampaikan oleh guru.
Langkah-langkah:
a. Tentukan topik yang akan disampaikan.
b. Bagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil.
c. Guru meminta siswa untuk menebak apa saja yang kira-kira akan mereka dapatkan dalam pelajaran.
d. Siswa diminta untuk membuat perkiraan itu di dalam kelompok kecil.
e. Sampaikan materi pelajaran secara interaktif.
f. Selama proses pembelajaran siswa diminta untuk mengidentifikasi tebakan mereka yang sesuai dengan materi yang disampaikan.
g. Pada akhir pelajaran, tanyakan berapa jumlah tebakan mereka yang benar.
Strategi ini dapat diterapkan pada hampir semua mata pelajaran. Kelas akan menjadi dinamis jika diadakan kompetisi antarkelompok untuk mencari kelompok dengan prediksi yang paling banyak benarnya.
Tuesday, September 29, 2009
Mengapa Sekolah Kami Belum Sebaik Yang Lain?
Proses memperbaiki atau membangun struktur pengetahuan bermula dari pertanyaan. Jika Anda bertanya, sesungguhnya mungkin karena belum mengetahui sesuatu atau ingin menggali pemahaman orang agar mengetahui sesuatu. Pertanyaan dapat mengeksplorasi informasi. Pertanyaan ada karena ada harapan atau kegagalan. Kegagalan dapat memaksa kita betanya, tapi harapan dan kegagalan boleh jadi bukan satu-satunya pendorong bertanya. Tatkala kita duduk pun bisa muncul pertanyaan sebagai masalah baru. Masalahnya sederhana,” Mengapa sekolah kami belum sebaik yang lain?” Jawabannya, panjang dan berliku. Kalau kita tidak pernah bertanya sesungguhnya kita tidak tahu atau tidak mau tahu.
untuk bahasan lebih lanjut silakan baca di http://gurupembaharu.com/
Mengapa Sekolah Kami Belum Sebaik Yang Lain?
Proses memperbaiki atau membangun struktur pengetahuan bermula dari pertanyaan. Jika Anda bertanya, sesungguhnya mungkin karena belum mengetahui sesuatu atau ingin menggali pemahaman orang agar mengetahui sesuatu. Pertanyaan dapat mengeksplorasi informasi. Pertanyaan ada karena ada harapan atau kegagalan. Kegagalan dapat memaksa kita betanya, tapi harapan dan kegagalan boleh jadi bukan satu-satunya pendorong bertanya. Tatkala kita duduk pun bisa muncul pertanyaan sebagai masalah baru. Masalahnya sederhana,” Mengapa sekolah kami belum sebaik yang lain?” Jawabannya, panjang dan berliku. Kalau kita tidak pernah bertanya sesungguhnya kita tidak tahu atau tidak mau tahu.
untuk bahasan lebih lanjut silakan baca di http://gurupembaharu.com/
Thursday, August 20, 2009
Kalender Pendidikan 2009-2010
Kalender Pendidikan 2009-2010
Monday, March 16, 2009
Sulit Menulis Karya Ilmiah?
Ibu-Bapak guru yang menghadapi tantangan berat dalam menyusun karya tulis ilmiah, web http://www.gurupembaharu.com dapat menjadi mitra menyelesaikan masalah. Jangan menyatakan tidak bisa, itu bukan masalah yang tidak dapat dipecahkan. Yang pasti, semua pasti ...bisa!
Kita ikuti saja saran Mochtar Lubis, jika Anda ingin belajar menulis maka menulislah. Jadi tidak sulit. Masalahnya adalah hanya soal bagaimana kita mengubah kebiasaan, serta membangun harapan dan kemauan. Yang dapat menjadi bukti adalah Ibu dan Bapak biasa menjelaskan banyak hal kepada siswa dengan lancar secara lisan. Itu pasti karena kebiasaan. Jadi masalah menyusun tulisan itu bukan tidak pandai, melainkan tidak membiasakan diri!
Satu lagi yang da menyemangati kita, Prof. Suharjono menyatakan bahwa dalam menulis KTI itu jangan membayangkan dulu yang sulit-sulit seperti hendak menyusun tesis atau disertasi. Jangan sampai karena hal itu membuat kita tidak jadi -jadi menulis KTI. Ini berbeda.
Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana mulai menyimpan data mengenai apa yang terjadi dalam pelaksanaan tugas, berpikir sistematis, mencatat gejala-gejala yang menarik perhatian. Kemudian menyusun catatan itu sebagai bahan perbaikan tindakan dalam kelas atau dalam mengelola sekolah. Yang pasti kita harus terbiasa memperhatikan apa kata teori dan apa yang sebenarnya terjadi. Selanjutnya membandingkannya dan mencari solusi agar ada keselasan antara apa yang terjadi dengan teori. Tapi perlu diingat bahwa malapetaka dalam ilmu dapat terjadi jika teori yang baik diuji dengan data yang buruk. Ini akan menghasilkan kesimpulan yang salah. Jadi, kumpulkanlah data yang objektif dan bermutu.
Sulit Menulis Karya Ilmiah?
Ibu-Bapak guru yang menghadapi tantangan berat dalam menyusun karya tulis ilmiah, web http://www.gurupembaharu.com dapat menjadi mitra menyelesaikan masalah. Jangan menyatakan tidak bisa, itu bukan masalah yang tidak dapat dipecahkan. Yang pasti, semua pasti ...bisa!
Kita ikuti saja saran Mochtar Lubis, jika Anda ingin belajar menulis maka menulislah. Jadi tidak sulit. Masalahnya adalah hanya soal bagaimana kita mengubah kebiasaan, serta membangun harapan dan kemauan. Yang dapat menjadi bukti adalah Ibu dan Bapak biasa menjelaskan banyak hal kepada siswa dengan lancar secara lisan. Itu pasti karena kebiasaan. Jadi masalah menyusun tulisan itu bukan tidak pandai, melainkan tidak membiasakan diri!
Satu lagi yang da menyemangati kita, Prof. Suharjono menyatakan bahwa dalam menulis KTI itu jangan membayangkan dulu yang sulit-sulit seperti hendak menyusun tesis atau disertasi. Jangan sampai karena hal itu membuat kita tidak jadi -jadi menulis KTI. Ini berbeda.
Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana mulai menyimpan data mengenai apa yang terjadi dalam pelaksanaan tugas, berpikir sistematis, mencatat gejala-gejala yang menarik perhatian. Kemudian menyusun catatan itu sebagai bahan perbaikan tindakan dalam kelas atau dalam mengelola sekolah. Yang pasti kita harus terbiasa memperhatikan apa kata teori dan apa yang sebenarnya terjadi. Selanjutnya membandingkannya dan mencari solusi agar ada keselasan antara apa yang terjadi dengan teori. Tapi perlu diingat bahwa malapetaka dalam ilmu dapat terjadi jika teori yang baik diuji dengan data yang buruk. Ini akan menghasilkan kesimpulan yang salah. Jadi, kumpulkanlah data yang objektif dan bermutu.