Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts

Monday, October 22, 2012

SUDAH DAN TELAH (Pengetahuan Bahasa)

Kita sering melihat berita sukacita atau dukacita di surat kabar atau majalah seperti berikut:


Telah 1. menikah Adi dengan Bimbi pada 25 September 2001.


Telah 2. meninggal dunia nenek kami tercinta pada tanggal 15 September 2001.


Berita seperti itu hampir tidak pernah menggunakan kata sudah walaupun kedua kata itu bersinonim.


Telah menikah digunakan untuk mengutamakan ‘peristiwa berlangsungnya pernikahan’, telah menikah dapat dilawankan dengan akan menikah. Akan tetapi, sudah menikah lebih mengutamakan ‘keadaan sudah berlangsungnya sesuatu’ sehingga sudah menikah dapat dilawankan dengan belum menikah.


Kata sudah mencakupi makna ‘cukup sekian’, ‘cukup sampai di sini’, sedangkan telah tidak.


Sudah 3. (bukan telah), jangan kautangisi lagi kematian itu.


Sudah dapat dirangkaikan dengan partikel -lah atau -kah, sedangkan telah tidak. Oleh karena itu, sudahkah dan sudahlah pada kalimat berikut berterima, tetapi kata telahkah dan telahlah tidak berterima.


Sudahkah 4. (bukah telahkah) semua anak negeri ini mendapat pendidikan yang baik?


Sudahlah 5. (bukan telahlah), jangan siksa dia lagi.


Kata sudah berdiri sendiri sebagai unsur tunggal di dalam klausa, sedangkan telah tidak.


Sudah6. ! (bukan telah) Diam!


Anda 7. sudah (bukan telah) makan? Sudah.


Sudah dapat digunakan dalam bentuk inversi, sedangkan telah tidak.


Lengkap 8. sudah (bukan telah) kebahagiaan hidupnya.


Sudah mempunyai hubungan yang renggang dengan predikat, tetapi telah lebih rapat. Kerenggangan itu tampak pada kemungkinan penyisipan kata, seperti mau, harus, akan, atau tidak, di antara kata predikat dan kata sudah.


Dia 9. sudah (bukan telah) mau makan sedikit-dikit.


Anda 10. sudah (bukan telah) harus pergi besok pagi.


Namun, pada contoh berikut kata sudah dan telah dapat digunakan.


Pagi-pagi kami datang 11. menjemputnya, tetapi ternyata dia sudah/telah pergi.


Dia sudah/telah dua hari 12. tinggal di desa kami.


Perhatikan bahwa pada contoh 11 sudah/telah digunakan untuk menerangkan verba pergi, sedangkan pada contoh 12 menerangkan numeralia dua hari.


Sumber: Majalah Ekspresi Edisi Desember 2010

Tuesday, April 13, 2010

DASAR ANALISIS PUISI

I. PENGERTIAN


Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poites, yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat. Dalam bahasa Latin dari kata poeta, yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, menyair. Dalam perkembangan selanjutnya, makna kata tersebut menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan (Sitomorang, 1980:10).


Menurut Vicil C. Coulter, kata poet berasal dari kata bahasa Gerik yang berarti membuat, mencipta. Dalam bahasa Gerik, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir menyerupai dewa-dewa atau orang yang amat suka pada dewa-dewa. Dia adalah orang yang mempunyai penglihatan yang tajam, orang suci, yang sekaligus seorang filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi (Situmorang, 1980:10)).

DASAR ANALISIS PUISI

I. PENGERTIAN


Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poites, yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat. Dalam bahasa Latin dari kata poeta, yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, menyair. Dalam perkembangan selanjutnya, makna kata tersebut menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan (Sitomorang, 1980:10).


Menurut Vicil C. Coulter, kata poet berasal dari kata bahasa Gerik yang berarti membuat, mencipta. Dalam bahasa Gerik, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir menyerupai dewa-dewa atau orang yang amat suka pada dewa-dewa. Dia adalah orang yang mempunyai penglihatan yang tajam, orang suci, yang sekaligus seorang filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi (Situmorang, 1980:10)).